D
I
S
U
S
U
N
OLEH:
KELOMPOK
I
TRI HARTINI
NURUL IZMYA
IRMA SARI DEVI
RIDWAN SUPARDI
NUR ASIA MATTALIU
KELAS
XI IA 5
SMA
NEGERI 1 LILIRIAJA
TAHUN
PELAJARAN 2012/2013
BAB I
PENDAHULUAN
A.
LATAR BELAKANG
Mengingat pada zaman dahulu, pejuang Indonesia dengan gigihnya
memperjuangkan Bangsa ini. Tidak mengenal lelah ataupun maut mereka tetap
berjuang menghadapi penjajah. Semangatnya tetap berkobar- kobar seperti api
yang tidak akan padam. Walaupun maut yang mereka hadapi, tak ada rasa takutpun
yang bergumam di benaknya. Dengan pemaparan materi tentang “Pertempuran
Surabaya” akan meningkatkan kesadaran bagi kaum generasi muda Indonesia kita
dapat mengambil sebuah hikmah dibalik perjuangan orang terdahulu kita.
B. RUMUSAN MASALAH
1.
Apa yang melatar belakangi munculnya
pertempuran Surabaya?
2.
Bagaimana sejarah pertempuran
Surabaya?
3.
Apa akibat dari Pertempuran Surabaya?
C. TUJUAN PENULISAN
1.
Untuk mengetahui yang melatar
belakangi munculnya Pertempuran Surabaya.
2.
Untuk mengetahui sejarah pertempuran
Surabaya
3.
Untuk mengetahui akibat dari
pertempuran Surabaya
D. MANFAAT PENULISAN
1.
Memberikan pengetahuan kepada pembaca
khususnya siswa tentang pertempuran Surabaya.
2.
Meningkatkan motivasi bagi generasi
muda untuk terus mempertahankan Bangsa in
BAB II
ISI
A.
LATAR BELAKANG MUNCULNYA PERTEMPURAN
SURABAYA
Perang
Surabaya November 1945, bisa dikatakan merupakan pertemuan antara : Keberanian
rakyat Indonesia, kegagalan Intel Inggris, cerobohnya Belanda dan naifnya
pemimpin Republik di Jakarta dalam memahami keadaan. Perang ini amat massif
sifatnya dan merupakan perang pertama di dunia setelah Hitler dikalahkan pada
Mei 1945. Perang ini juga merupakan sebuah kejutan besar bagi Inggris dan
menjadi inspirasi bagi negara Asia lainnya untuk mengobarkan perlawanan anti
kolonial. Bisa dikatakan “Perang Surabaya adalah titik balik terpenting bagi
negara-negara jajahan di Asia untuk memulai revolusinya”.
Ketika
kemenangan sekutu mulai terasa di Asia, setelah MacArthur secara lompat kodok
berhasil satu persatu mencaplok pulau-pulau di Asia, berawal dari kemenangannya
menguasai pulau-pulau kecil di Pasifik selatan, kemudian menguasai Biak dan
membunuhi ribuan serdadu Jepang. Lalu menerbangkan pesawat-pesawatnya ke
Filipina, disana MacArthur memenuhi janjinya kepada rakyat Filipina “I shall
return”. Sampai pada titik ini, MacArthur dan Amerika Serikat masih bercitra
menjadi pembebas negeri, apalagi di Asia, Jepang amat kalap demi kemenangan
perang ia memperbudak penduduk negeri-negeri jajahan.
Namun
dibalik kemenangan MacArthur ini, Belanda dengan licik memanfaatkan Amerika
Serikat, seperti kebiasaan orang Belanda yang selalu ambil manfaat
sebanyak-banyaknya dan berjuang sekecil-kecilnya, maka Belanda mulai
mendompleng kemenangan MacArthur demi menguasai kepulauan paling kaya di dunia
: Hindia Belanda. Pada tahun 1943, ketika Filipina sudah dikuasai MacArthur,
Belanda langsung menerbangkan Van Mook dari Australia untuk ikut menandatangani
perjanjian di Tacloban, Filipina tentang wilayah perang. Saat itu wilayah
perang dibagi dua : Wilayah Tenggara (South East) dan South West (Pasifik Barat
Daya) kebanyakan wilayah Indonesia masuk ke dalam South West. Baik wilayah
perang Asia Tenggara dan Pasifik Barat Daya semuanya dibawah komando MacArthur
sebagai Supreme Commander. Setelah Jepang menyerah kalah, dengan gentleman
Amerika Serikat menyerahkan wilayah perang itu kepada Inggris. Inggris saat itu
menunjuk Lord Louis Mountbatten, Raja Muda India untuk menjadi penguasa di Asia
eks jajahan Jepang. Mountbatten sendiri berkedudukan di Saigon.
Van Mook, Van Der
Plas dan Spoor adalah tiga serangkai dari Belanda yang paling banyak melobi
pihak Inggris untuk mengembalikan Hindia Belanda ke tangan Belanda. Van Der
Plas menganggap remeh situasi di Hindia Belanda. Inilah kesalahan terpenting
intel-intel Belanda di Indonesia yang masih melihat pergerakan pemuda di Jawa
atau Sumatera adalah pergerakan anak bawang. Karena sikap meremehkan Van Der
Plas ini membuat Van Mook bersama Spoor hanya merekrut 5000 serdadu Belanda
dari Suriname dan Curicao untuk disiapkan mengamankan kedatangan mereka di
Jawa.
Saat
sarapan pagi di markasnya Australia, Van Mook kaget mendengar berita Proklamasi
dari Jakarta. Van Mook mulai memiliki insting akan ada situasi berat, tapi
ketika Van Mook menyampaikan ini ke Van Der Plas, Van Der Plas hanya tersenyum
kecil dan berkata singkat “Apa bisa sekelompok manusia penakut melawan Brigade
tempur veteran perang dunia?”
Sekelompok
orang pengecut ternyata sudah berubah. Van Mook mati-matian mempertahankan
pendapat bahwa Belanda harus mengirimkan banyak pasukan. Van Der Plas menolak,
karena dengan mengirimkan banyak pasukan akan membuat kecurigaan Inggris tentang
begitu menggebunya Belanda mencaplok Hindia Belanda “Santai saja jangan membuat
Inggris atau Amerika memperhatikan kita” . Gagal meyakinkan Van Der Plas,
akhirnya Van Mook menghubungi jaringannya di London agar segera melobi Perdana
Menteri Inggris. Utusan Van Mook mengejar PM Inggris ke Downing Street, tapi
ternyata Churchill sedang beristirahat di Chequers, pinggiran kota London
disana diadakan pertemuan dadakan. Churchill akhirnya menyarankan agar dibentuk
sebuah tentara pengambil alihan sipil, pihak Belanda setuju lantas disana
dibentuklah NICA (Nederlaands India Civil Affair), NICA ini akan jadi semacam
pengawal pemerintahan peralihan untuk kemudian menegakkan kekuasaan Belanda di
Inggris, dalam nota Chequers yang tertanggal 24 Agustus 1945 ini pula termuat
komitmen Inggris untuk siap membantu apabila NICA mengalami kesulitan dalam
menegakkan kembali kekuasaannya di Indonesia.
Nota
Chequers ini amat rahasia, bahkan Van Mook sendiri sampai beberapa saat
merahasiakannya di depan teman-temannya, karena apabila ini bocor maka
pendaratan Inggris sebagai pasukan pembuka akan gagal. Inggris kemudian
membentuk RAPWI, sebuah organ pembebasan tawanan perang sekutu oleh Jepang dan
pasukan Inggris mendarat di Jawa atas nama AFNEI. Barulah beberapa hari kemudian
setelah berpikir panjang Van Mook menunjukkan surat nota Chequers ke Van Der
Plas, sambil marah-marah Van der Plas bilang ke Van Mook, kenapa tidak langsung
diberikan kepada dirinya info itu, karena Van Der Plas bisa tau posisi Inggris
saat ini. Van Der Plas langsung memutuskan untuk membawa Van Mook ke Kandy,
Srilanka untuk menemui Lord Louis Mountbatten.
Disini
kemudian Van Mook dan Van Der Plas ditemui di teras belakang dengan santai di
rumah dinas Mountbatten. “Kita akan melanjutkan hasil pertemuan di Yalta 1945
dan melanjutkan keputusan tuan Perdana Menteri tentang ini” kata Van Mook
sambil menyerahkan surat nota Chequers kepada Mountbatten. Raja Muda India itu
membaca dengan seksama surat itu, lalu mengonfirmasi dengan ajudannya atas
keabsahan surat itu lewat jalur rahasia, setengah jam kemudian ada pesan dari
London bahwa surat itu absah. Tanpa pikir panjang Mountbatten berkata “Akan
saya perintah ke seluruh divisi pasukan saya untuk membantu pasukan Belanda.
Tapi ini jangan terlalu berlebihan biarlah Inggris membereskan seluruh
persoalan sipil dengan baik”
“Kami
tak ingin kedahuluan Komunis” kata Van Mook menakut-nakuti Inggris. Mountbatten
tersenyum “Saya tau watak Stalin, ia sudah terikat dengan perjanjian Yalta
1945. Stalin tidak akan masuk ke wilayah yang dikuasai sekutu, asal kita jangan
pancing dia”. Mountbatten langsung melanjutkan “Saya punya intelijen disana
namanya Kolonel Van Der Post, biarlah dia jadi perwira penghubung nanti kita
akan terima banyak laporan dari dia”.
Van
Mook setuju, begitu juga dengan Van Der Plas mereka bersalaman dengan
Mountbatten lalu balik ke Australia dan menyiapkan pasukan serta para perwira
stafnya. Di Australia pemimpin pasukan diputuskan perwira KNIL orang Jawa
bernama Abdulkadir Wijoyoatmodjo dan Mayor KNIL Santoso.Abdulkadir dan Santoso
diperintahkan Van Mook untuk ke Djakarta untuk mengadakan pengembangan
kontak-kontak jaringan dengan eks perwira KNIL yang masih memiliki pasukan.
Abdulkadir dan Santoso langsung berangkat ke Jakarta dan menemui beberapa perwira
KNIL di Jakarta untuk bersiap melakukan perang dengan pihak Indonesia apabila
pasukan NICA nanti mendarat dan menerima perlawanan.
Setelah
Abdulkadir bertemu dengan pasukannya, lalu Van Mook dan Van Der Plas datang ke
Jakarta disana ia berjumpa dengan Kolonel Van Der Post, kontak terpenting Van
Der Post dengan banyak pemimpin-pemimpin baru Republik. Van Mook agak nggak
suka dengan Van Der Post yang secara eksplisit mendukung kemerdekaan Indonesia.
Van Der Post sempat menertawai Belanda ketika pasukan Belanda akan datang
kembali. “Kamu akan berhadapan dengan banyak orang nekat” kata Van Der Post di
satu sore depan stadion Vios, Menteng.
Karena
sudah memegang Nota Chequers itu Van Mook amat yakin bisa menguasai kembali
Republik. Sementara di Djakarta sendiri, kedatangan sekutu disambut baik.
Sukarno amat takut apabila dirinya akan ditangkap karena tuduhan kolaborator,
sementara Hatta dan Sjahrir sudah berhitung untuk menghindari perang terhadap
sekutu. Kelemahan Sukarno yang kadang-kadang menyebalkan adalah “Ia tidak
memperhitungkan kekuatannya sendiri” padahal seluruh bangsa ini mau merdeka
secara sukarela karena mereka melihat figur Sukarno.
Hatta
dan Sjahrir amat bergantung dengan figur Sukarno. Sementara kekuatan lain belum
bermunculan, Tan Malaka masih bersembunyi di rumah Achmad Subardjo dan masih
bingung harus kontak siapa lagi yang bisa dipercaya, karena Sukarni menghilang
setelah Tan Malaka bertemu dengan Sukarni di rumahnya. Sukarni, Maruto
Nitimihardjo, Chaerul Saleh, dan banyak tokoh pemuda berkali-kali meyakinkan
Sukarno akan perang total dengan sekutu. Sukarno marah-marah karena perbuatan
amat gila berperang dengan pasukan sekutu. Para pemuda tidak tau akan nota
Chequers 24 Agustus 1945, tapi para pemuda liwat insting politiknya yakin Belanda
bermain di belakang sekutu, kejadian ini seperti 120 tahun yang lampau saat
pasukan Inggris menyerahkan Jawa ke tangan Belanda setelah kekalahan Napoleon.
Sukarno, Hatta dan
Sjahrir tidak mau berspekulasi dan memutuskan untuk menganut garis “menghindarkan
perang dan menyelamatkan nyawa orang banyak dari peperangan”.
Lalu sekutu datang
ke Tanjung Priok. Kedatangan sekutu disana mendapatkan banyak perhatian dari
orang-orang Priok termasuk Hadji Tjitra (mertuanya Lagoa, jagoan Priok) dan
Hadji Tjitra melaporkan kedatangan sekutu yang bersenjata lengkap juga beberapa
orang berbicara bahasa Belanda kepada pemimpin pemuda Maruto Nitimihardjo.
Kedatangan orang Belanda ini menjadi alasan bagi Pemuda untuk menembaki sekutu
di Jalan-Jalan Djakarta, lalu Sukarno marah-marah dan membentak Maruto juga
Pandu Kartawiguna
“Hentikan Perang,
Tolol!!”............
Maruto marah
begitu juga dengan Pandu. Tapi di tempat lain sudah mulai muncul tokoh baru Tan
Malaka, yang ternyata mereka kenal sebagai Ilyas Hussein seorang utusan pemuda
dari Bayah, Banten.
Di Tanjung Mas,
Surabaya Pasukan sekutu mendarat dan membebaskan banyak interniran perang
Belanda. Banyak eks orang kaya Belanda langsung lupa diri, mereka kemudian
berpesta. Di Hotel Yamato, para orang kaya Belanda menyiapkan pesta untuk
mengganti nama Hotel Yamato ke nama semula yaitu : Hotel Oranje. Proses penggantian
nama ini kemudian diikuti oleh pengerekan Bendera Belanda di atas hotal Yamato.
Perintah pengerekan ini dilakukan oleh Ploegman salah seorang advokat Surabaya
di jaman sebelum Jepang. Pengibaran itu dilakukan jam 9 malam.
Paginya pengibaran
bendera Belanda bikin perhatian banyak orang yang sedang berjalan kaki.
Pemuda-pemuda yang dilapori rakyat bahwa Belanda mengibarkan bendera langsung
ngasah bambu runcing, beberapa pemuda melapor ke Residen Surabaya : Sudirman.
“Lha, kan sudah ada perintah dari Jakarta untuk mengibarkan bendera merah
putih” Sudirman memegang surat perintah 1 September 1945 tentang bendera merah
putih lalu membawanya ke Hotel Yamato. Disana Sudirman dikawal Sidik dan
Haryono. Sampai di depan kerumunan massa, Sudirman ditemui beberapa orang
pemuda yang kalap “Kita bakar saja hotel ini” Sudirman menahan ide pemuda itu,
lalu ia segera masuk ke ruang lobi Hotel. Disana Sudirman disoraki orang-orang
Belanda yang sedang menyiapkan acara dansa.
“Mana Pemimpin
Belanda disini..!!” kata Sudirman sambil kedua tangannya memegang pinggang.
“Saya kamu mau apa?” kata Ploegman dengan pandangan menghina. Lalu Sudirman
menunjukkan surat perintah Djakarta tentang pengibaran bendera “Kamu bisa baca
ini?”Ploegman mengibaskan tangannya dan mengenai surat itu langsung terjatuh ke
lantai. Sidik yang melihat kelakuan kurang ajar Ploegman langsung memegangi
leher Ploegman, lalu Ploegman mengeluarkan pistol dan mengarahkan ke Sudirman.
Tak lama kemudian dari belakang pistol meletus dan mengenai punggung Sidik. Sidik
langsung jatuh dan mati, lalu beberapa orang Belanda mau mengeroyok Sudirman
dan Haryono. Para pemuda menerobos masuk dan terjadilah perkelahian seperti di
bar-bar, beberapa orang Belanda digebuki sampai mati.
Di luar keadaan
semakin memanas, beberapa orang pemuda naik ke atas dan merobek warna biru
Belanda, lalu mengibarkan sisa bendera robekan itu : Merah Putih, sekejap
rakyat Surabaya terdiam lalu menangis, beberapa diantara dengan semangat
menyanyikan lagu Indonesia Raya dengan suara gemetar. Hari itu rakyat Surabaya
memiliki keIndonesiaannya.
Sejak Insiden
Yamato itu kemudian pemuda menyerang pos-pos militer sekutu. Perang
kecil-kecilan terjadi, barulah pada akhir Oktober 1945 terjadi perang besar.
Inggris mengirimkan Hawthorn untuk melobi Sukarno di Djakarta. Sukarno langsung
berangkat ke Surabaya, ditengah tembakan mendesing Sukarno menemui beberapa
pemuda dan memerintahkan menghentikan tembakan “Musuh kita bukan sekutu, mereka
hanya membebaskan tawanan perang..” kata Sukarno. Para pemuda menuruti apa kata
Sukarno.
Lalu gencatan
senjata terjadi.
Van Mook
menganjurkan pada Mountbatten agar mengirimkan Jenderal administrasi saja,
semacam Jenderal Salon yang tak pernah pegang pasukan. Bagi para Jenderal amat
senang dan merupakan reputasi menarik apabila diperintahkan memegang pasukan.
Begitu juga yang terjadi pada Mallaby, selama perang dunia kedua Mallaby hanya
duduk di belakang meja merapihkan administrasi markas dan mengatur alat-alat
peraga Atlas untuk presentasi para Jenderal yang mengatur pasukan di lapangan.
Mallaby yang saat
itu berpangkat Mayor Jenderal dengan senang hati menerima perintah memimpin
pasukan Brigade 49 yang terkenal nekat dan berhasil menghajar Jepang pada
perang Burma 1944. Pangkat Mayor Jenderal pun diturunkan menjadi Brigadir
Jenderal, karena pangkat seorang komandan Brigade Inggris adalah Brigjen.
Mallaby yang saat
itu menjadi saksi atas gencatan senjata memerintahkan pasukannya untuk menarik
diri dari semua pertempuran. Keputusan itu ditandatangani 29 Oktober 1945.
Namun informasi gencatan senjata ternyata tidak sampai ke seluruh pasukan. Ada
pasukan kecil India (Gurkha) yang membangun benteng pasir di bawah Jembatan
Merah Surabaya. Mereka menembaki segerombolan pemuda. Para Pemuda membalas
berondongan senjata dengan serbuan bambu runcing, naas bagi Mallaby yang
dikiranya kota sudah aman dia berjalan-jalan malam untuk mencari restoran yang
masih buka, ia lapar. Dengan naik mobil Buick ia bersama pengawalnya
berkeliling Surabaya, di dekat jembatan merah ia malah masuk ke wilayah
Republik, kemudian ada pistol menyalak ke dada Mallaby. Seketika Mallaby mati
kemudian ada granat masuk ke dalam mobil Mallaby, mobil
Mallaby meledak
hebat. Mayatnya terpanggang di dalam.
Sampai sekarang
siapa yang nembak Mallaby, siapa yang melempar granat tidak diketahui, apakah
ini mainan intelijen Belanda, NEFIS atau memang sebuah aksi spontan pemuda.
Namun yang jelas dari sinilah Perang Surabaya bermula.
B.
SEJARAH PERTEMPURAN SURABAYA
Dalam
perang lima tahun dengan NAZI, Inggris tidak pernah kehilangan satu Jenderal
pun. Tapi di Surabaya baru lima hari mendarat seorang Jenderal terbunuh. Inilah
yang membuat marah Inggris. Lalu dengan cepat Mountbatten menunjuk Mayor
Jenderal Mansergh sebagai kepala pasukan Inggris di Surabaya untuk membereskan
kota Surabaya. Mayjen Mansergh yang jago perang dunia itu langsung mengambil
keputusan untuk melucuti semua orang Surabaya.
“Hak apa orang
Inggris memerintahkan orang Surabaya sebuah bagian dari negara berdaulat”
teriak Bung Tomo sambil menggebrak meja setelah mendapatkan laporan bahwa ada
ultimatum bahwa orang Surabaya harus menyerahkan senjata sampai tanggal 10
November 1945.
“Wah perang ini”
kata Bung Tomo di depan banyak temannya. Beberapa jam kemudian Bung Tomo
memerintahkan anak buahnya untuk menyiapkan mobil lalu pergi ke Tebu Ireng,
Jombang. Disana ia berjumpa dengan Hadratus Sjaikh Hasjim As’ary (kakek Gus
Dur) untuk meminta pertimbangan. “Perang ini akan jadi perang sahid, perang
suci karena membela tanah air, tapi sebelum saya putuskan bantu kamu baiknya
kamu dzikir dulu, saya menunggu seorang Kyai dari Cirebon”
Esoknya
Hadratus Sjaikh berkata lagi pada Bung Tomo “Kamu perang saja, ulama membantu,
santri-santri membantu”.
Mendapat jaminan
dan restu dari tokoh ulama, Bung Tomo langsung ke Surabaya dan meneriakkan di
corong “Radio Pemberontak” ...Saudara-saudara Allahu Akbar!!... Semboyan kita tetap: MERDEKA ATAU MATI.
Dan kita yakin, saudara-saudara, pada akhirnya pastilah kemenangan akan jatuh ke tangan kita
sebab Allah selalu berada di pihak yang benar
percayalah saudara-saudara,
Tuhan akan melindungi kita sekalian.
Allahu Akbar...!! Allahu Akbar...! Allahu Akbar...!!!
MERDEKA!!!
Dan kita yakin, saudara-saudara, pada akhirnya pastilah kemenangan akan jatuh ke tangan kita
sebab Allah selalu berada di pihak yang benar
percayalah saudara-saudara,
Tuhan akan melindungi kita sekalian.
Allahu Akbar...!! Allahu Akbar...! Allahu Akbar...!!!
MERDEKA!!!
Mendengar
pidato Bung Tomo, orang Surabaya paham itu isyarat perang. Mayjen Mansergh juga
ambil kesimpulan bakal ada perang beneran. Akhirnya tanggal 10 November tiba,
sirene pagi berbunyi keras dan tak satupun rakyat Surabaya yang datang ke pos
militer sekutu untuk menyerahkan senjata.
Para pemuda
membangun benteng-benteng pasir, menjalin kawat berduri, bersembunyi di
jendela-jendela toko sudah perseneleng siap tempur.
Pagi
hari Gubernur Surjo mendatangi beberapa tokoh pemuda. Gubernur Soerjo bilang
“ini sudah keterlaluan Inggris, sudah tidak menganggap Pemerintahan Djakarta
itu ada, tidak ada Republik Indonesia” lalu Gubernur Soerjo dengan blangkonnya
berpidato “kita tidak mau dijajah kembali, Merdeka....!!” Jam 6 pagi dari arah
pelabuhan di Surabaya Utara, kanon-kanon kapal perang Inggris sudah mengarah ke
kota. Tembakan pertama meletus jam 6.10 dari sebuah kapal kemudian meletus lagi
dari semua kapal berikutnya seluruh wilayah kota yang dekat dengan pelabuhan
jadi korbannya.
Wilayah
Surabaya Utara dihuni oleh banyak orang-orang Cina, Arab, India dan beberapa
pedagang dari Bugis. Rata-rata dari mereka adalah pedagang. Rumah-rumah mereka
hancur dengan tanah, tembakan kanon terus menerus menghancurkan Pasar Turi,
Kramat Gantung dan Pasar Besar. Beberapa tempat sudah tak berbekas. Jam 7 pagi
pasukan Inggris mulai masuk ke Surabaya. Mereka masuk ke kampung-kampung dan
menembaki rakyat dengan membabi buta, ada orang tembak, ada pemuda tembak mati.
Sekutu menendangi rumah penduduk dan mencari senjata, bila ada yang melawan
tembak mati. Rakyat Surabaya belum melawan, mereka masih siaga di posisinya
masing-masing, belum ada perintah tembak dari Djakarta. Para penggede militer
TKR di Djakarta dilapori situasi Surabaya terutama penembakan kanon di Surabaya
Utara. Amir Sjafruddin yang saat itu mengurusi pertahanan langsung
memerintahkan “Lawan!!” lalu datanglah perintah dari Djakarta agar rakyat
Surabaya melawan.
Jam
9.15 milisi Surabaya sudah dapat kabar bahwa Jakarta menyetujui perang, lalu
tembakan pertama kali terjadi di Pasar Turi dari pihak Republik. Di batas-batas
kota rakyat mulai berdatangan memasuki kota, ratusan ribu orang memasuki kota
Surabaya mempertahankan kedaulatan bangsanya yang sedang dihina Inggris dan
Belanda. Pasukan resmi tentara juga mulai mengoordinasi, semuanya ikut dalam
barisan milisi, pertahanan Republik langsung dibangun dari arah barat ke Timur,
wilayah Asem Jajar dijadikan wilayah perang pertama antara sekutu dan Republik.
Di wilayah ini pasukan sekutu berhasil dipukul mundur, beberapa dari mereka
tewas ketika pasukan bambu runcing nekat maju dan masuk ke lobang pasir dimana
mitraliyur ditaruh. Di selatan Pasar Turi pasukan Inggris menerobos masuk tapi
ditembaki dari gedung-gedung oleh pasukan rakyat.
Jam
10.12 di langit Surabaya suara pesawat menderu-deru kencang. Rupanya Inggris
mengerahkan pasukan Royal Air Force (RAF) langsung dari pangkalan militernya di
Burma. Pasukan RAF yang dikerahkan ini adalah veteran perang dari Perang Dunia
kedua yang mengebom Berlin. Tapi sekarang bukan Berlin yang dibom tapi Kota
Surabaya, mereka mengebom kantor-kantor pemerintahan, gedung-gedung sekolah.
Bila tahun 1940 Inggris dibombardir Jerman, maka Inggris mengulangi kejahatan
Jerman dengan memborbardir kota Surabaya, banyak orang tertembak mati kena
runtuh gedung, dan orang yang tertembak mitraliyur pesawat, Inggris seperti
pasukan gila yang mengamuk habis-habisan.
Inggris
belum kenal watak orang Surabaya yang panas. Pasukan rakyat kemudian mengambil
beberapa mitralyur anti pesawat buatan Jepang dan menembaki skuadron pasukan
RAF. Dua pesawat kena tembak salah satunya adalah seorang jenderal yang bernama
Brigjen Robert
Guy Loder Symonds seorang komandan pasukan Artileri yang sedang melakukan
survey udara. Jenderal ini kemudian dibawa ke Jakarta dan dimakamkan
di Kramat Pulo, Menteng.
Pertempuran makin
meluas, sampai ke Kali Mas. Di pinggir Kali Mas pasukan sekutu langsung
menggempur pasukan rakyat. Jam 12 siang hari pertama, pasukan infanteri mulai
mendarat sekitar 20.000 orang, inilah pasukan terbesar Inggris setelah perang
dunia selesai, dan merupakan perang paling brutal sepanjang sejarah pertempuran
pasukan Inggris.
Dari
Radio hampir seluruh rakyat Indonesia menunggu laporan-laporan dari
perkembangan perang, mereka menunggu pidato Bung Tomo. Semua mendekatkan
telinga mereka di radio. Pada hari itu juga banyak dari orang-orang Indonesia
di tempat lainnya menyiapkan diri untuk perang ke Surabaya. Sekitar 20.000
orang Bali sudah siap masuk ke Surabaya, beberapa bisa menyusup dan langsung
menggempur sekutu. Dari Aceh sudah disiapkan ribuan orang pengiriman, di Medan
ribuan orang berkumpul untuk bersiap diberangkatkan ke Surabaya, di Lombok
Mataram di depan para Ulama, rakyat Lombok siap mati dan akan berangkat ke
Surabaya. Di Yogyakarta sudah mulai ada pengiriman pasukan, Malang sudah kirim
pasukan sementara Djakarta masih menunggu perkembangan, penggede-penggede
Djakarta masih berharap perang bisa diselesaikan dengan cepat.
Di
wilayah lain di luar Surabaya, Jenderal Sudirman dan para staf-nya memutuskan
untuk memotong rantai logistik sekutu. Jadi 20 ribu pasukan infanteri bakalan
terlokalisir dan digebuki rakyat Surabaya. Taktik ini berhasil, laskar-laskar
rakyat di Jawa Barat menghadang pasukan logistik sekutu yang mau masuk dari
arah barat, di Malang gudang logistik pasukan sekutu dihancurkan, otomatis
selama 5 hari pasukan sekutu terkunci dari semua pintu masuk kota, sementara
ribuan orang Indonesia terus mengalir memasuki kota dengan senjata apa adanya
berperang melawan sekutu. Pasukan sekutu mulai stress, karena logistik tidak
ada, bantuan tempur logistik yang diterjunkan dari pesawat kemakan orang-orang
Republik, bahkan nyaris tidak ada logistik yang berhasil didapatkan pasukan
Inggris. Mereka sudah terkunci dan terkepung oleh seluruh orang Indonesia yang
mengitari mereka, keberadaan pasukan Inggris dari Brigade 49 tinggal menghitung
waktu.
Tempat-tempat
dimana pos pasukan Inggris berada di blokade total, tak ada listrik, tak ada
makanan, mereka harus berjaga 24 jam agar jangan sampai ditembaki Republik yang
terus menerus nggan berhenti. Di hari kelima pertempuran mulai jarang tembakan
dari pasukan sekutu, pasukan Inggris mulai kehabisan amunisi, beberapa orang
Surabaya nekat masuk ke pos-pos Inggris dan meledakkan granat, inilah yang
mereka takutkan. Dalam kondisi rusak mental inilah, pasukan Brigade 49 mulai
teriak-teriak ke markas mereka di Djakarta bahwa mereka sudah terdesak. Rahasia
kekalahan Inggris ini disimpan rapi-rapi, jangan sampai Penggede Republik
Indonesia tau, mereka berlagak ja’im dan masih mencitrakan diri sebagai
pemenang perang di Surabaya. Begitu juga dengan pemimpin di Jakarta yang tidak
begitu mengetahui perkembangan perang di Surabaya, mereka sudah ‘underestimate’
bahwa perang akan dimenangkan oleh Inggris.
Di
Singapura para panglima Inggris berkumpul. “Kita sudah kalah di Surabaya” kata
seorang Panglima. “Pasukan kita sudah kelaparan, tidak ada lagi pasokan” memang
saat itu pasukan sekutu sudah amat kelaparan. Mereka tidak dapat pasokan
logistik, sementara para pejuang Republik dapat pasokan terus menerus nasi
bungkus, pisang, dan banyak bahan makanan dari rakyat yang sukarela membuatkan
masakan di dapur umum. Bahkan beberapa pasukan Inggris seperti anjing kelaparan
saat melihat sisa nasi bungkus bahkan yang udah basi, mereka ambil dan makan.
“Keadaan ini harus dirahasiakan” Bagaimanapun pasukan Brigade 49 dari Divisi V adalah
pasukan kebanggaan Inggris, mereka dijuluki “Fighting Cock” pada Perang Burma
1944, merekalah yang merebut satu persatu wilayah Burma dengan sistem gerilya
hutan, kini Brigade itu perlahan-lahan mati kelaparan, digebukin dan
ditembakin.
Lalu
para Panglima itu mengutus Admiral Heifrich menemui Presiden Sukarno. Heifrich
mengakui sendiri dalam buku biografinya, ‘Keputusan untuk menghentikan perang,
satu-satunya hanya pada Presiden Sukarno” apa yang dilakukan Heifrich ini bila
diperhatikan sangat aneh untuk watak Inggris yang amat ksatria. Karena saat
ultimatum, Inggris sempat menganggap Pemerintahan Republik Indonesia tidak ada,
lantas setelah pasukan Brigade 49 sudah kalah dan terjepit ia minta tolong pada
Sukarno. Disinilah kesalahan Sukarno paling fatal, ia masih termakan halusinasi
bahwa sekutu adalah pihak yang menang perang dan merupakan alat yang baik untuk
berdiplomasi dengan Belanda. Sukarno nggak paham kekuatan bangsa sendiri, ia
tidak langsung melihat pertempuran, jalan diplomatiknya yang dipilih merupakan
blunder besar dalam perang Kemerdekaan 1945-1949.
Perang
Surabaya yang berlangsung selama tiga minggu, di minggu pertama dimenangkan
oleh pihak Republikein, tapi karena keputusan Sukarno yang memerintahkan
penghentian perang, sehingga Jenderal Sudirman membuka blokade lalu pasukan
Divisi V yang awalnya sudah diputuskan tidak akan masuk Surabaya karena takut
dihabisi, jadi masuk. Logistik yang tadinya terputus mengalir kembali. Dan
kemudian Inggris mampu menghajar pasukan Republik. Lalu nggak berapa lama
Inggris menguasai kota Surabaya, karena sudah dapat suplai logistik dari
Jakarta. Apakah yang terjadi bila Sukarno tau kebohongan Inggris, mulai dari
Nota Chequers 24 Agustus 1945 sampai pada rahasia pasukan Brigade 49 yang
kocar-kacir. Sukarno saat itu berada pada persimpangan politik yang amat
tragis. Di satu sisi hanya dia-lah yang dipercaya rakyatnya, di sisi lain dia
tidak mau perang dengan sekutu, karena nama Sukarno sudah tercatat sebagai
kolaborator. Bila Sukarno diambil pihak sekutu, Sukarno kuatir Indonesia akan
kehilangan pemimpin.
Kesalahan
besar Sukarno yang menghentikan perang ini juga sama fatalnya dengan perintah
Sukarno agar melarang pasukan KKO pimpinan Mayjen Hartono masuk ke Djakarta di
tahun 1966 untuk memberikan pelajaran bagi Suharto. Sukarno memang pribadi yang
menarik tapi ketika ia harus masuk ke dalam situasi perang nampaknya ia lebih
memilih menghindar. Padahal perang Surabaya adalah sebuah drama besar yang bisa
dijadikan landasan untuk merdeka sepenuhnya, Perang Surabaya juga dikabarkan
lewat radio-radio dan didengarkan oleh para pejuang di banyak negara terjajah
seperti Vietnam dan Burma, dari perang inilah kemudian membangkitkan semangat
mereka melawan Kolonialisme. Pelajaran dari sejarah ini adalah ketika kita sudah
pada situasi perang, janganlah kita hentikan dengan diplomasi, janganlah kita
memberikan tempat pada lawan. Reformasi 1998 terlalu memberikan tempat pada
orang Orde Baru sehingga perjalanan demokrasi menjadi rusak, begitu juga dengan
sikap lemah kita pada IMF atau Bank Dunia. Kita harus percaya atas kemampuan
diri sendiri.
C.
AKIBAT
PERTEMPURAN SURABAYA
Peperangan
besar pada 10 November 1945 di Surabaya banyak menelan korban jiwa.
Diperkirakan ada 160 ribu pejuang gugur melawan pasukan NICA
(Netherlands-Indies Civil Administration) dan sekutu.Korban berjatuhan itu
karena pertempuran tidak seimbang. Sebagian besar pejuang hanya bermodal
senjata seadanya seperti bambu runcing, sedangkan tentara sekutu dan NICA
menggunakan senjata saat itu.
”Kurang lebih 160 Ribu jiwa gugur saat peristiwa 10 November itu. Paling banyak korban adalah di Jalan Pahlawan yang saat ini dibangun Tugu Pahlawan. Di tempat itu memang pusat pertempurannya,” ujar Sam Abede Pareno, sejarawan Universitas 17 Agustus (Untag), Surabaya, saat pembukaan Festival Kota Pahlawan, Kamis (10/11/2011).
Pertempuran itu dimulai pada 19 September 1945. Tepatnya di Hotel Oranye yang saat ini menjadi Hotel Majapahit. Pemicunya, di Hotel tersebut masih dipasang bendera Belanda dengan warna Merah-Putih-Biru. Saat itu, sejumlah warga di Surabaya tersinggung atas pemasangan bendera tersebut. Alasannya, Indonesia sudah merdeka namun masih ada bendera Belanda.
”Saat itu Belanda sudah menyerah kepada Jepang. Kedatangan masyarakat adalah meminta agar bendera Belanda itu segera diturunkan,” katanya. Ternyata permintaan itu tidak digubris oleh warga Belanda yang saat itu berada di Hotel Oranye. Malahan mereka menolak dengan kesan congkak yaitu bertolak pinggang.
Akhirnya, Residen (Kepala Wilayah di bawah Gubenur Jenderal) Sudirman, datang ke lokasi tersebut. Kedatangan Residen Sudirman juga tidak ditanggapi dengan baik oleh pihak Belanda. Hingga akhirnya massa di luar hotel memaksa masuk menurunkan bendera Belanda. “Setelah diturunkan, bendera Belanda itu disobek warna birunya hingga tinggal merah dan putih dan kemudian dikibarkan lagi,” ungkap pria yang juga menjadi dosen Ilmu Komunkasi ini.
Rupanya, buntut penyobekkan itu membuat marah Belanda. Terlebih lagi, Belanda tidak mengakui kemerdekaan Indonesia itu.
Dalam agresi kali ini, tentara NICA mengikutsertakan sekutu. Hingga akhirnya, perlawanan demi perlawanan muncul di Surabaya. Pada 30 Oktober 1945 perlawanan kian besar. Bahkan, sebagai bentuk perlawanan itu, KH Hasyim Ashary ulama Nahdlatul Ulama (NU) mengeluarkan resolusi jihad. Akibat pertempuran ini, Jenderal AWS Mallaby, pimpinan tentara Inggris tewas saat baku tembak di Jembatan Merah, Surabaya.
"Kematian Mallaby ini ternyata memicu pertempuran yang lebih besar lagi. Karena Belanda mengeluarkan ultimatum kepada bangsa Indonesia agar menyerah dengan cara membawa bendera putih dan datang dengan jalan merangkak kepada Belanda. Ultimatum itu tidak digubris oleh bangsa Indonesia," katanya. Pertempuran lebih besar pun pecah pada 9 November 1945. Saat itu, Surabaya dikepung dari berbagai penjuru, mulai darat, laut, hingga udara.
”Kurang lebih 160 Ribu jiwa gugur saat peristiwa 10 November itu. Paling banyak korban adalah di Jalan Pahlawan yang saat ini dibangun Tugu Pahlawan. Di tempat itu memang pusat pertempurannya,” ujar Sam Abede Pareno, sejarawan Universitas 17 Agustus (Untag), Surabaya, saat pembukaan Festival Kota Pahlawan, Kamis (10/11/2011).
Pertempuran itu dimulai pada 19 September 1945. Tepatnya di Hotel Oranye yang saat ini menjadi Hotel Majapahit. Pemicunya, di Hotel tersebut masih dipasang bendera Belanda dengan warna Merah-Putih-Biru. Saat itu, sejumlah warga di Surabaya tersinggung atas pemasangan bendera tersebut. Alasannya, Indonesia sudah merdeka namun masih ada bendera Belanda.
”Saat itu Belanda sudah menyerah kepada Jepang. Kedatangan masyarakat adalah meminta agar bendera Belanda itu segera diturunkan,” katanya. Ternyata permintaan itu tidak digubris oleh warga Belanda yang saat itu berada di Hotel Oranye. Malahan mereka menolak dengan kesan congkak yaitu bertolak pinggang.
Akhirnya, Residen (Kepala Wilayah di bawah Gubenur Jenderal) Sudirman, datang ke lokasi tersebut. Kedatangan Residen Sudirman juga tidak ditanggapi dengan baik oleh pihak Belanda. Hingga akhirnya massa di luar hotel memaksa masuk menurunkan bendera Belanda. “Setelah diturunkan, bendera Belanda itu disobek warna birunya hingga tinggal merah dan putih dan kemudian dikibarkan lagi,” ungkap pria yang juga menjadi dosen Ilmu Komunkasi ini.
Rupanya, buntut penyobekkan itu membuat marah Belanda. Terlebih lagi, Belanda tidak mengakui kemerdekaan Indonesia itu.
Dalam agresi kali ini, tentara NICA mengikutsertakan sekutu. Hingga akhirnya, perlawanan demi perlawanan muncul di Surabaya. Pada 30 Oktober 1945 perlawanan kian besar. Bahkan, sebagai bentuk perlawanan itu, KH Hasyim Ashary ulama Nahdlatul Ulama (NU) mengeluarkan resolusi jihad. Akibat pertempuran ini, Jenderal AWS Mallaby, pimpinan tentara Inggris tewas saat baku tembak di Jembatan Merah, Surabaya.
"Kematian Mallaby ini ternyata memicu pertempuran yang lebih besar lagi. Karena Belanda mengeluarkan ultimatum kepada bangsa Indonesia agar menyerah dengan cara membawa bendera putih dan datang dengan jalan merangkak kepada Belanda. Ultimatum itu tidak digubris oleh bangsa Indonesia," katanya. Pertempuran lebih besar pun pecah pada 9 November 1945. Saat itu, Surabaya dikepung dari berbagai penjuru, mulai darat, laut, hingga udara.
BAB III
PENUTUP
KESIMPULAN:
Para pemuda gigihnya Indonesia terdahulu kita dengan
gigihnya mereka rela mati untuk mempertahankan kemerdekaannya.
SARAN
Sebagai generasi penerus Bangsa, kita harus meningkatkan
Bangsa ini. Jangan kecewakan para pahlawan kita yang telah rela mengorbankan
nyawany demi Bangsa ini.
DAFTAR
PUSTAKA